Oleh: chobish | Desember 14, 2008

Ketika Membaca Menjadi Kebutuhan: Catatan Bulan Gemar Membaca


Ketika Membaca Menjadi Kebutuhan: Catatan Bulan Gemar Membaca

Oleh:

Heri Abi Burachman Hakim

Staff Perpustakaan FISIPOL UGM

Angka buta aksara di Tanah Air terus menurun. Penurunan jumlah penduduk yang buta hurup ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran masyarakat akan arti penting pendidikan serta berbagai program yang dilakukan pemerintah.

Berdasarkan data Susenas 2000 menunjukkan pada tahun 2000 jumlah penduduk yang buta aksara dari usia 10 tahun sampai 51 tahun keatas berjumlah 10,08% %(BPS, 2000). Dari data ini dapat diketahui bahwa masyarakat indonesia yang mampu membaca hampir mencapai 90, artinya sampir semua penduduk indonesia mampu membaca.

Melihat angka tersebut terbersit harapan bahwa masalah rendahnya minat baca masyarakat kita akan terselesaikan. Kita ketahui bersama bahwa minat baca masih menjadi masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini, padahal telah banyak usaha yang dilakukan untuk “mengatrol” minat baca masyarakat. Dan ada kolerasi antara faktor kemampuan membaca dengan minat baca. Seseorang tidak akan bisa membaca, apalagi memiliki budaya baca apabila tidak bisa membaca atau buta aksara.

Seharusnya angka di atas merupakan refleksi atas minat baca masyarakat, karena apabila seseorang sudah bisa membaca, seharusnya ia memiliki kebiasaan membaca. Akan tetapi di Indonesia kemampuan membaca seseorang bukan jaminan orang tersebut suka membaca. Hal ini disebabkan karena membaca belum membudaya. Lalu usaha seperti yang perlu dilakukan untuk menigkatkan minat baca masyarakat? Sangat disayangkan apabila kemampuan membaca masyarakat tidak diikuti oleh kebiasaan membaca karena membaca merupakan kegiatan multi manfaat

Peran Keluarga

Keluarga menjadi faktor dominan dalam pembentukan karakter serta kebiasaan seseorang. Keluarga menjadi media yang efektif untuk menumbuhkan suatu kebiasaan. Sehingga apabila dalam sebuah keluarga memiliki kebiasaan membaca, maka secara tidak langsung seluruh anggota keluarga dalam keluarga tersebut gemar membaca. Dengan kata lain, keluarga dapat dijadikan sebagai sarana pembinaan minat baca masyarakat. Dari kebiasaan membaca di tingkat keluarga inilah, kemudian berkembang menuju budaya baca masyarakat.

Pembinaan minat baca dilingkungan keluarga di awali dengan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan cara yang efektif dalam usaha meningkatkan minat baca menuju bangsa yang gemar membaca. Sejak usia dini anak-anak dikenalkan dengan kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca di masa anak-anak ini akan terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Orang tua perlu menstimulus minat baca anak dengan menyediakan buku-buku atau bahan baca lainnya yang mampu menggugah minat anak untuk membaca. Selanjutnya orang tua perlu memberikan tauladan dengan cara aktif membaca dan meluangkan waktu khusus untuk membaca setiap harinya. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tuanya yang dianggap mereka sebagai figur. Dengan pemberian keteladanan ini anak akan lebih termotivasi untuk membaca. Selain itu di keluarga juga perlu ditetapkan waktu khusus untuk membaca setiap harinya sehingga anggota keluarga memiliki jadwal membaca yang teratur setiap harinya.

Peran Sekolah

Sekolah menjadi institusi kedua dalam proses pembinaan minat baca setelah keluarga. Sekolah dapat mendukung proses pembinaan minat baca yang dilakukan keluarga selama ini. Melalui fungsi edukasi yang melekat pada sekolah serta perpustakaan yang dimiliki, sekolah dapat melakukan program pembinaan minat baca.

Sayangnya, saat ini sekolah belum mampu optimal dalam melakukan pembinaan minat baca. Hal ini disebabkan kerena kurikulum yang kurang berpihak terhadap pembinaan minat baca serta kondisi perpustakaan sekolah yang memperihatinkan. Di sekolah peserta didik lebih disibukkan dengan proses belajar yang membatasi waktu mereka untuk memanjakan minat bacanya. Setelah itu, ketika dirumah peserta didik juga harus membagi waktu untuk belajar, mengerjakan pekerjaan rumah yang mereka dapatkan dari guru di sekolah serta bermain. Apabila melihat jadwal yang pada tersebut lalu kapan waktu mereka untuk mengapresiasikan minat bacanya?

Keadaan ini juga semakin diperparah dengan kondisi Perpustakaan sekolah yang belum maksimal memerankan fungsinya sebagai media pembinaan minat baca. Perpustakaan tidak mampu melakukan pembinaan minat baca secara maksimal karena keterbatasan koleksi, sarana, SDM dan banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan.

Untuk itu sekolah perlu memperhatikan pembinaan minat baca. Usaha ini perlu dilakukan karena banyak manfaat yang diperoleh dari membaca, salah satunya akan menunjang keberhasilan proses belajar peserta didik. Guru dapat merangsang minat baca siswa melalui tugas yang memotivasi siswa untuk membaca dan mengakses perpustakaan.

Selain itu pihak sekolah juga perlu membangun atau memperbaiki kondisi perpustakaan yang ada. Sarana layanan perpustakaan perlu terus dilengkapi, kualitas koleksi perlu ditingkatkan serta menyediakan pengelola yang bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan perpustakaan. saat ini banyak sekolah yang memanfaatkan guru sebagai tenaga pengelola perpustakaan, sehingga apabila guru bersangkutan mengajar maka perpustakaan tutup. Dengan memperbaiki kondisi perpustakaan sekolah maka akan meningkatkan daya tarik perpustakaan sehingga peserta didik akan meningkatkan frekwensi kunjungannya ke perpustakaan.

Kontribusi Perpustakaan Umum

Usaha pembinaan minat baca yang telah dilakukan keluarga dan sekolah perlu didukung oleh eksistensi perpustakaan umum. Perpustakaan umum merupakan institunsi pembinaan minat baca bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan status. Tua, muda, miskin atau kaya dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan sarana bacanya. Perpustakaan umum berperan sebagai institusi penyedia saran baca bagi masyarakat. Minat baca tidak akan pernah terwujud tanpa ketersediaan sarana baca.

Perpustakaan umum perlu terus berbenah guna mendukung upaya pembinaan minat baca. Pembenahan ini mencakup perbaikan kualitas koleksi, sarana layanan serta SDM perpustakaan. Kualitas koleksi perpustakaan baik dari segi kuantitas maupun kemuktahiran perlu terus ditingkatkan. Sarana perpustakaan juga perlu dilengkapi sehingga meningkatkan rasa nyaman pengguna perpustakaan ketika mengakses perpustakaan. Sedangkan peningkatan kualitas SDM diperlukan agar perpustakaan dikelola oleh individu yang profesional dibidangnya sehingga mampu berkreatifitas dalam pengembangan perpustakaan dan pembinaan minat baca masyarakat.

Untuk mewujudkan perpustakaan yang senantiasa menjaga kemuktahiran koleksi dan nyaman, memang bukanlah pekerjaan mudah dan murah. Harga sebuah perpustakaan berkualitas memang mahal. Untuk itu diperlukan dukungan pemerintah terutama pemerintah daerah untuk mengalokasikan dana yang cukup bagi pembangunan perpustakaan. Dengan dukungan pemerintah ini maka perpustakaan akan mampu berperan maksimal dalam pembinaan minat baca.

Apabila kondisi perpustakaan umum semakin membaik dan didukung partisipasi aktif  keluarga serta sekolah dalam pembinaan minat baca, maka secara perlahan minat baca masyarakat akan semakin meningkat. Dari tahun ke tahun kesadaran masyarakat untuk membaca akan semakin meningkat, sehingga membaca akan menjadi kebutuhan bagi masyarakat kita.  Dengan demikian maka tidak perlu lagi penetapan bulan september sebagai bulan gemar membaca karena setiap hari masyarakat sudah gemar membaca.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: