Oleh: chobish | Desember 15, 2008

Komputerisasi Perpustakaan dengan Murah


Komputerisasi Perpustakaan dengan Murah

Oleh:
Heri Abi Burachman Hakim
Staf Perpustakaan FISIPOL UGM

Banyak perpustakaan sekolah masih menjadi tempat yang tidak menarik bagi siswa untuk memasukinya. Mereka tidak memiliki motivasi untuk mengakses perpustakaan. Padahal, di dalam perpustakaan sekolah tersimpan banyak pengetahuan yang dapat menunjang siswa serta bekal dalam kehidupan sosial di masyarakat.

Kondisi ini disebabkan perpustakaan sekolah dikelola secara konvensional, koleksi perpustakaan yang kurang menarik serta suasana ruang perpustakaan yang tidak mampu memberikan rasa nyaman sehingga siswa dan warga sekolah lainnya enggan berkunjung ke perpustakaan.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan perpustakaan untuk menyulap perpustakaan sebagai tempat yang mampu menarik warga sekolah untuk mengaksesnya adalah komputerisasi perpustakaan sekolah. Komputerisasi perpustakaan dapat dimaknai sebagai usaha pemanfaatan teknologi komputer (mencakup perangkat keras dan perangkat lunak) dalam aktivitas pengelolaan perpustakaan.

Apabila pengelola perpustakaan sekolah atau pimpinan sekolah memiliki pengetahuan tentang komputerisasi perpustakaan, maka mereka akan menyadari bahwa komputerisasi perpustakaan bukanlah hal yang sulit dan mahal. Asalkan perpustakaan tersebut memiliki komputer, maka perpustakaan tersebut dapat melakukan komputerisasi perpustakaan.

Komputerisasi perpustakaan sebenarnya bukanlah pekerjaan yang sulit dan mahal. Modal utama yang diperlukan adalah perangkat keras komputer. Apabila sebuah perpustakaan telah memiliki perangkat keras komputer, maka komputerisasi perpustakaan dapat segera dilakukan.

Perangkat keras komputer menjadi modal utama dalam kegiatan komputerisasi perpustakaan dikarenakan saat ini pengelola perpustakaan tidak perlu lagi dipusingkan dengan pengadaan perangkat lunak yang harganya mahal. Saat ini banyak tersedia free open source software atau software berbasis open source yang dapat digunakan secara gratis untuk pengembangan komputerisasi perpustakaan.

Untuk pengadaan perangkat keras ini, perpustakaan perlu mengalokasikan dana khusus. Dana khusus tersebut diperlukan untuk membeli seperangkat komputer yang digunakan sebagai sarana operasional sistem informasi perpustakaan, printer untuk mencetak barcode yang akan ditempel di setiap koleksi atau laporan-laporan dari sistem informasi perpustakaan, serta barcode reader atau barcode scanner yang digunakan untuk membaca nomor barcode yang ditempel di setiap koleksi perpustakaan.

Sebaiknya, komputer yang disediakan lebih dari satu karena kebutuhan komputer terkait dengan implementasi sistem informasi perpustakaan adalah komputer yang dipergunakan untuk server program, komputer yang diperuntukkan bagi staf perpustakaan, serta komputer yang disediakan bagi pengguna perpustakaan untuk mengakses OPAC (katalog terpasang atau katalog komputer).

Namun, jika perpustakaan tersebut hanya mampu menyediakan satu komputer, implementasi komputerisasi perpustakaan tetap dapat dilakukan dengan catatan bahwa satu komputer tersebut difungsikan sebagai komputer server dan komputer yang dipergunakan staf perpustakaan sehingga pengguna tidak memiliki komputer yang disediakan untuk mengakses OPAC.

Terkait dengan penggunaan barcode reader, jika perpustakaan memiliki dana, sebaiknya perpustakaan membeli perangkat keras ini karena keberadaan perangkat keras ini mampu mempercepat proses kerja di perpustakaan. Namun, apabila perpustakaan tidak memiliki dana untuk pengadaan barcode reader, maka perpustakaan tidak perlu memaksakan untuk membeli perangkat keras ini.

Barcode reader atau yang juga dikenal dengan barcode scanner hanyalah alat bantu yang digunakan untuk membaca huruf-huruf dalam format barcode. Artinya, jika perpustakaan tidak memiliki barcode reader, maka pengelola perpustakaan dapat membaca barcode secara manual, kemudian mengetikkan secara manual pada komputer yang di dalamnya tersedia aplikasi sistem informasi perpustakaan.

Perangkat lunak

Saat ini perpustakaan yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli perangkat lunak sistem informasi perpustakaan tidak perlu khawatir. Perpustakaan tetap dapat membangun sistem informasi perpustakaan dengan menggunakan perangkat lunak berbasis free open source software. Geliat gerakan open source ternyata membawa hikmah tersendiri bagi dunia perpustakaan, yaitu tersedianya aplikasi untuk membangun sistem informasi perpustakaan atau membangun perpustakaan digital yang dapat diperoleh dan digunakan secara gratis.

Perangkat lunak yang dapat diperoleh dan digunakan secara gratis ini justru peluang bagi perpustakaan yang tidak memiliki dana untuk membeli perangkat lunak sistem informasi. Perpustakaan tersebut tetap dapat membangun sistem informasi perpustakaan tanpa harus mengeluarkan dana untuk pengadaan perangkat lunak.

Perangkat lunak yang dapat digunakan gratis untuk membangun sistem informasi perpustakaan, antara lain OpenBiblio, PhpMyLibrary, Otomigen-X, X-igloo, dan Sanayan yang sedang marak diperbincangkan oleh orang-orang di dunia perpustakaan karena perangkat lunak ini dirasa memiliki fasilitas paling komplet di antara aplikasi berbasis free open source yang pernah ada. Banyak perpustakaan yang telah menggunakan berbagai perangkat lunak tersebut untuk membangun sistem informasi perpustakaan, mulai dari perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, sampai perpustakaan departemen sekelas Departemen Pertahanan Nasional dan Departemen Pendidikan Nasional.

Jika melihat banyak perpustakaan yang telah menggunakan berbagai aplikasi di atas untuk membangun sistem informasi perpustakaan, sudah saatnya perpustakaan sekolah yang tidak memiliki dana memadai, mencontoh langkah berbagai perpustakaan yang telah menggunakan aplikasi berbasis free open source untuk membangun perpustakaan yang dilengkapi dengan sistem informasi perpustakaan.

Dengan semakin terjangkaunya harga komputer dan perangkat lunak sistem informasi perpustakaan, maka komputerisasi perpustakaan semakin mudah dilakukan. Apabila semua perpustakaan sekolah di Tanah Air telah menjelma sebagai lembaga yang nyaman serta mampu memberikan layanan yang semakin berkualitas, maka perpustakaan dapat lebih optimal dalam pembinaan minat baca serta lebih optimal dalam mendukung proses belajar mengajar di sekolah.

Dimuat pada harian Kompas tanggal 11 Juni 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: