Oleh: chobish | Februari 2, 2011

Perangkat Lunak Gratis: Awal Kebangkitan Perpustakaan di Tanah Air


Perpustakaan yang maju dan dapat menjelma sebagai perpustakaan impian masyarakat adalah perpustakaan yang mampu mengoptimalkan ekstensi teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan perpustakaan. Optimalisasi teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan perpustakaan memberikan layanan yang berkualitas bagi pengguna peprustakaan. Optimalisasi eksistensi teknologi informasi dan komunikasi terlihat dari implementasi otomasi serta pembangunan perpustakaan digital. Otomasi perpustakaan memungkinkan perpustakaan melakukan pelayanan secara otomatis dengan komputer sehingga pelayanan dapat dilakukan secara cepat dan berkualitas. Sedangkan digitalisasi perpustakaan memungkinkan koleksi perpustakaan dapat diakses oleh pengguna tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Konsep perpustakaan seperti ini tentu akan semakin memanjakan pengguna dalam mengakses layanan perpustakaan.

Berbeda dengan kondisi perpustakaan yang telah maju, di sisi lain masih banyak perpustakaan yang kondisinya memprihatinkan. Perpustakaan yang kondisinya memprihatinkan biasanya dikelola secara manual. Pengolahan koleksi, layanan peminjaman atau pengembalian koleksi pada perpustakaan yang termasuk dalam kategori ini dilakukan secara manual. Dengan layanan manual ini perpustakaan tidak mampu memberikan layanan yang cepat dan berkualitas layanan kepada pengguna perpustakaan.

Salah satu penyebab tidak semua perpustakaan mampu melakukan otomasi atau membangun perpustakaan digital adalah harga perangkat lunak otomasi atau perpustakaan digital yang cukup tinggi. Harga perangkat lunak komersil untuk membangun otomasi atau perpustakaan digital mencapai angka jutaan bahkan puluhan juta. Terkadang harga perangkat lunak ini lebih mahal dari pada harga perangkat keras.

Di tengah mahalnya harga perangkat lunak untuk membangun otomasi dan perpustakaan digital, bagi perpustakaan yang tidak mampu menjangkau perangkat lunak komersil dapat menggunakan perangkat lunak gratis sebagai alternatif. Dengan demikian semua perpustakaan akan mampu melakukan otomasi atau membangun perpustakaan digital. Saat ini banyak perangkat lunak gratis yang dapat digunakan oleh perpustakaan secara gratis, baik  untuk  otomasi perpustakaan maupun untuk membangun perpustakaa digital.

Sayangnya tidak semua pengelola perpustakaan mengerti tentang keberadaan perangkat lunak gratis. Padahal seiring dengan semakin terjangkaunya harga perangkat keras, perangkat lunak gratis dapat menjadi alternatif sebagai pengganti perangkat lunak komersil. Keberadaan perangkat lunak ini semakin membuka peluang bagi perpustakaan untuk melakukan otomasi perpustakaan atau membangun perpustakaan digital.

Untuk memberikan pengetahuan tentang perangkat lunak gratis yang dapat digunakan perpustakaan, penulis mencoba menuliskannya dalam tulisan ini.  Semoga dengan tulisan ini mampu memberikan pengetahuan tentang perangkat lunak gratis yang dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan serta menyadarkan pengelola perpustakaan bahwa membangun otomasi dan perpustakaan digital bukanlah pekerjaan sulit dan mahal.

Pembahasan

Perangkat Lunak Gratis Sebagai Peluang

Implementasi otomasi dan pembangunan perpustakaan digital diperlukan sedikitnya dua komponen utama. Komponen tersebut adalah perangkat keras dan perangkat lunak. Jika kedua komponen ini tidak terpenuhi maka otomasi dan digitalisasi perpustakaan hanyalah sebuah konsep.

Selama ini membangun perpustakaan digital atau otomasi perpustakaan merupakan program yang mahal. Otomasi atau pembangun perpustakaan digital menjadi program yang mahal karena perpustakaan harus menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak sekaligus. Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan inilah yang menyebabkan tidak semua perpustakaan di Tanah Air mampu melakukan otomasi perpustakaan atau membangun perpustakaan digital.

Akan tetapi, saat ini muncul harapan bagi seluruh perpustakaan di Tanah Air untuk melakukan otomasi atau membangun perpustakaan digital. Harapan ini muncul disaat harga perangkat keras yang makin terjangkau oleh perpustakaan serta tersedianya perangkat lunak gratis yang dapat digunakan perpustakaan. Saat ini harga perangkat keras semakin terjangkau, komputer dan perangkat keras lainya bukan lagi barang mewah bagi masyarakat Indonesia. Selain itu tersedianya berbagai aplikasi atau perangkat lunak yang dapat digunakan secara gratis semakin membuka peluang perpustakaan untuk melakukan otomasi perpustakaan dan membangun perpustakaan digital.

Dengan semakin terjangkaunya harga perangkat keras dan tersedianya perangkat lunak gratis maka biaya yang harus dikeluarkan dalam rangka otomasi perpustakaan atau membangun perpustakaan menjadi semakin murah. Pengelola perpustakaan cukup menyiapkan anggaran pengadaan perangkat keras karena perangkat lunak dapat diperoleh secara gratis. Saat ini Modal utama  untuk membangun otomasi dan perpustakaan digital hanyalah perangkat keras. Pengelola perpustakaan tidak akan dipusingkan dengan masalah harga perangkat lunak otomasi atau perpustakaan digital yang mahal harganya karena saat ini tersedia perangkat lunak gratis.

Eksistensi perangkat lunak gratis semakin membuka peluang bagi perpustakaan di Indonesia untuk melakukan otomasi atau membangun perpustakaan digital. Bagi perpustakaan yang tidak memiliki anggaran dana besar, perpustakaan tersebut cukup mengeluarkan anggaran untuk pengadaan perangkat keras, sedangkan perangkat lunak yang dibutuhkan dapat diperoleh secara gratis.

Banyak perangkat lunak yang dapat digunakan oleh perpustakaan secara gratis. Perangkat lunak tersebut dapat digunakan untuk melakukan otomasi atau membangun perpustakaan digital. Berbagai perangkat lunak yang dapat diperoleh dan dipergunakan secara gratis tersebut memiliki sifat dan karateristik yang berbeda-beda. Perbedaan sifat dan karateristik yang ada pada setiap perangkat lunak nantinya akan berpengaruh terhadap sejauh mana perpustakaan mampu mengoptimalkan.

Berdasarkan sifat serta karateristiknya, perangkat lunak yang dapat digunakan secara gratis oleh perpustakaan setidaknya dapat dibedakan atau dikolompokkan menjadi dua kategori. Kategori yang pertama yaitu perangkat lunak yang masuk dalam kategori  open source. Sedangkan kategori yang kedua yaitu perangkat lunak yang termasuk dalam kategori freeware.

Perangkat lunak gratis yang termasuk dalam kategori open source secara harfiah dapat dipahami sebagai perangkat lunak berbasis open source yang dapat diperoleh dan digunakan secara gratis oleh perpustakaan. Sedangkan definisi dari perangkat lunak berbasis open source sendiri adalah perangkat lunak yang memungkinkan pengguna memperoleh perangkat lunak lengkap dengan source code perangkat lunak tersebut sehingga memungkinkan pengguna  memodifikasi source code sesuai dengan kebutuhan. Jika pengguna dapat memodifikasi source code perangkat lunak berarti pengguna dapat memodifikasi perangkat lunak tersebut sesuai kebutuhan. Dengan demikain perangkat lunak gratis yang termasuk dalam kategori open source dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan perpustakaan.

Berbeda dengan perangkat lunak yang termasuk dalam kategori open source , perangkat lunak freeware adalah perangkat lunak yang yang dapat diperoleh secara gratis tanpa disertai source code perangkat lunak dan kalaupun source code diberikan, pengguna tidak memiliki kekuatan legal untuk mengubah atau mendistibusikan kembali source code perangkat lunak (Pendit, 2007; 1997). Karena source code pada jenis perangkat lunak ini tidak dapat diperoleh oleh pengguna maka  pengguna atau perpustakaan tidak memiliki peluang untuk memodifikasi perangkat lunak.

Perangkat lunak yang dapat digunakan secara gratis oleh perpustakan ada yang bersifat open source atau freeware. Pengolala perpustakaan hendaknya melakukan pemilihan dengan bijak untuk memilih jenis perangkat lunak yang akan digunakan untuk melakukan otomasi atau membangun perpustakaan digital. Apakah akan menggunakan perangkat lunak gratis open source atau freeware.

Perangkat Lunak Gratis untuk Otomasi Perpustakan

Definisi otomasi perpustakaan adalah pemanfaatan mesin, komputer, dan peralatan elektronik lainnya untuk memperlancar tugas-tugas perpustakaan (Lasa HS, 1998). Definisi yang sama tentang otomasi perpustakaan juga diungkapkan oleh Kumorotomo dan Subandono (1999), menurut mereka otomasi perpustakaan adalah pemanfaatan komputer untuk pengelolaan aktivitas perpustakaan yang menyangkut pengadaan bahan pustaka, pengolahan dan pelayanan.

Berdasarkan dua definisi di atas maka otomasi perpustakaan tidak hanya sebatas pemanfaatkan komputer dalam kegiatan administrasi perpustakaan atau pemanfaatan komputer untuk membangun database koleksi perpustakaan. Selama ini pustakawan atau pengelola perpustakaan sering beranggapan apabila perpustakaan telah menggunakan komputer dalam kegiatan administrasi perpustakaan atau telah memiliki database koleksi perpustakaan yang dapat diakses melalui OPAC (Online Publikc Access Catalog) atau katalog komputer maka perpustakaan tersebut telah terotomasi. Otomasi bukan hanya pemanfaatan komputer dalam kegiatan administrasi perpustakaan atau pemanfaatkan komputer untuk membangun database koleksi perpustakaan, lebih dari itu otomasi perpustakaan mencakup pemanfaatkan komputer dalam seluruh kegiatan perpustakaan seperti pengadaan bahan pustaka, pengolahan, pelayanan dan penyusunan laporan.

Untuk melakukan otomasi diperlukan perangkat lunak otomasi perpustakaan. Perangkat lunak otomasi dapat diperoleh dengan cara membeli atau menggunakan perangkat lunak gratis. Sayangnya tidak semua perpustakaan mampu membeli perangkat lunak otomasi karena harganya yang cukup mahal. Apalagi untuk perpustakaan yang ditopang dengan dana kecil sulit untuk menjangkau perangkat lunak ini. Mahalnya harga perangkat lunak otomasi inilah yang menyebabkan banyak perpustakaan yang tidak mampu melakukan otomasi perpustakaan.

Sebagai alternatif, agar perpustakaan mampu melakukan otomasi perpustakaan, pengelola perpustakaan dapat menggunakan perangkat lunak gratis. Saat ini ada banyak perangkat lunak gratis yang dapat digunakan untuk membangun otomasi perpustakaan. Perangkat lunak gratis tersebut ada yang bersifat open source atau bersifat freeware. Perangkat lunak gratis bersifat open source yang dapat digunakan perpustakaan untuk membangun otomasi perpustakaan antara lain OpenBiblio(http://obiblio.sourceforge.net), Koha(www.kora.org), emilda(www.emilda.org),  PhpMyLibrary (www.phpmylibrary.org), Otonomigen.X(www.krmg.itb.ac.id), X-igloo (http://sourceforge.net/projects/iglooyha/) dan Senayan yang saat ini sedang hangat diperbincangkan karena perangkat lunak ini memiliki fasilitas yang lengkap sebagai sebuah perangkat lunak berbasis open source (www.senayan.diknas.go.id). Sedangkan perangkat lunak gratis yang bersifat freeware adalah Athenaum Light dan perangkat lunak ini adalah perangkat lunak bersifat freeware yang paling banyak digunakan oleh perpustakaan di Indonesia.

Dari Berbagai Aplikasi di atas OpenBiblio, Koha, Emilda, PhpMyLibrary dan Atheneum Light adalah perangkat lunak gratis buatan luar negeri. Sedangkan Otomigen-X, X-igloo dan Senayan adalah perangkat lunak gratis buah karya putra-putri Indonesia.

Berbagai perangkat lunak yang telah disebutkan di atas adalah sedikit contoh dari perangkat lunak gratis yang dapat digunakan perpustakaan untuk membangun otomasi perpustakaan secara gratis. Jika ingin melihat perangkat lunak gratis lainnya yang dapat digunakan secara gratis dapat dilihat di situs www.sourceforge.net. Di dalam situs ini terkumpul banyak perangkat lunak berbasis open source untuk perpustakaan, apakah itu perpustakan untuk membangun otomasi perpustakaan atau untuk membangun perpustakaan digital.

Perangkat Lunak Gratis untuk Perpustakaan Digital

Secara sederhana perpustakaan digital dapat dipahami sebagai perpustakaan yang menghimpun koleksi dalam format digital (koleksi digital). Koleksi digital ini dapat berupa file-file komputer dalam format .doc, xls, pdf, audio, jpg, png dan masih banyak lagi format file lainya. Dengan koleksi dalam format digital ini memungkinkan pengguna mengakses koleksi perpustakaan tanpa harus datang langsung ke perpustakaan.

Menghimpun koleksi digital ini dapat dilakukan dengan menelusur informasi digital di Internet kemudian mengunduhnya dan menjadikannya sebagai koleksi perpustakaan atau dengan cara mendigitalkan koleksi perpustakaan. Cara yang kedua ini yang itu mendigitalkan koleksi perpustakaan adalah cara yang membutuhkan energi serta dana yang besar.

Setelah perpustakaan memiliki koleksi digital maka perpustakaan perlu menyajikan koleksi tersebut dengan sistem layanan tertentu sehingga koleksi tersebut dapat dengan mudah diakses. Caranya adalah dengan menggunakan perangkat lunak perpustakaan digital. Perangkat lunak perpustakaan digital memungkinkan penguna menelusur koleksi digital yang dimiliki perpustakaan sekaligus mengakses koleksi digital tersebut langsung dari perangkat lunak tersebut.

Untuk membangun perpustakaan digital perpustakaan tidak perlu penganggarkan dana pembelian perangkat lunak. Perpustakaan dapat penggunakan perangkat lunak perpustakaan digital yang dapat digunakan secara gratis. Perangkat lunak yang dapat digunakan untuk membangun perpustakaan digital adalah Ganesha Digital Library (GDL) atau Greenstone Digital Library. Kedua perangkat lunak perpustakaan digital ini termasuk dalam kategori perangkat lunak berbasis open source. GDL dapat diperoleh dengan cara mengunduh pada web KMRG ITB di www.kmrg.itb.ac.id. dan greenstone dapat diperoleh dengan mengunduhnya di www.greenstone.org.

Perpustakaan di Tanah Air banyak yang telah menggunakan kedua perangkat lunak ini untuk memembangun perpustakaan digital. Akan tetapi diantara kedua perangkat lunak ini GDL adalah perangkat lunak perpustakaan digital yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Penutup

Pada paparan di atas telah disebutkan banyak perangkat lunak gratis yang dapat digunakan perpustakaan. Perangkat lunak gratis tersebut dapat digunakan untuk melakukan otomasi atau pembangunan perpustakaan digital.

Jika melihat begitu banyaknya tersedia perangkat lunak gratis untuk membangun otomasi perpustakaan maka tidak ada lagi alasan untuk menunda otomasi perpustakaan atau pembangunan perpustakaan digital. pengelola perpustakaan tidak dapat lagi mengkambing hitamkan ketidak tersediaan perangkat lunak sebagai penyebab kegagalan otomasi perpustakaan atau pembangunan perpustakaan digital. Saat ini yang diperlukan adalah motivasi pengelola perpustakaan atau pustakawan untuk belajar menggunakan berbagai perangkat lunak gratis.

Perpustakaan tidak perlu takut menggunakan perangkat lunak gratis. Walaupun pihan pengembang tidak memberikan garansi atas penggunaan perangkat lunak sehingga jika di dalam perangkat lunak terdapat bugs (kelemahan atau kekurangan) semua menjadi resiko pengguna, tetapi setiap perangkat lunak gratis memiliki forum atau mailing list pengguna Melalui mailing list atau forum pengguna para pengguna perangkat lunak gratis saling bertukar pengalaman, berbagi ilmu dan mencoba untuk menyempurnakan perangkat lunak jika di dalam perangkat lunak tersebut terdapat bugs.

Banyak mailing list yang dapat digunakan sebagai sarana belajar memanfaatkan perangkat lunak gratis. Saat ini ada toolib, ics-isis, the-ics dan idln yang merupakan mailing list di bidang perpustakaan yang akan membantu jika saat menggunakan perangkat lunak ini perpustakaan mengalami masalah. Bahkan  perangkat lunak senayan menyediakan forum khusus yang membahas tentang bugs-bugs yang ada di dalam senayan. Semua masalah akan dipecahkan secara bersama melalui mailing list ini.

Eksistensi perangkat lunak ini dapat dijadikan sebagai awal  kebangkitan perpustakaan di Indonesia. Bangkit di tengah keterpurukan karena tidak tersedianya dana bagi pengembangan perpustakaan. Jika seluruh perpustakaan di Indonesia mampu memanfaaktan eksistensi perangkat lunak gratis maka seluruh perpustakaan akan mampu menjadi perpustakaan impian pengguna. Apabila ini terwujud maka perpustakaan tidak akan dipandingkan sebelah mata lagi.

Semoga dengan momentum peringantan 100 tahun kebangkitan nasional dan semakin populernya perangkat lunak gratis kondisi perpustakaan di Tanah Air mulai berubah. Perubahan menjelma sebagai institusi pelayanan publik berbasis teknologi informasi yang mampu memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

Anctil, Eric dan Jamshid Beheshti. 2004. “Open source Integrated Library Systems: An Overview”. Dalam http://www.anctil.org/users/eric/oss4ils.html, tanggal 1 Maret 2007, Pukul 08.00

Kumoroto, Wahyudi dan Subandono Agus Margono .1999. Sistem Informasi Manajemen: Dalam Organisasi-organisasi Publik. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.

Hakim, Heri Abi Burachman. 2007. Evaluasi Kualitas OpenBiblio Sebagai Perangkat Lunak Otomasi Perpustakaan Berbasis Open source. Dalam Fihris, Volume 2, Nomor 1.

Lasa HS. 1998. Kamus Istilah Perpustakaan. Yogyakarta, Kanisius

_______.2005. Manajemen Perpustakaan. Yogyakarta, Gava Media.

Pendit, Laxman Putu dkk. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia. Yogyakarta, Sagung Seto.

Purwoko; Hakim, Heri Abi Burachman dan Surachman, Arif. 2006. “Kajian Awal Aplikasi Open source untuk Otomasi Perpustakaan: Studi Kasus X-igloo, OpenBiblio, Weblis, PhpMyLibrary. Dalam Fihris, Volume 1, Nomor 1.

Vimal Kumar V. 2007. “Selection and Management of Open source Software in Libraries”. Dalam http://eprints.relis.org. tanggal 3 Maret 2007, Pukul 10.00

Wahono, Romi Satria. 2006. “Teknologi Informasi untuk Perpustakaan: Perpustakaan Digital dan Sistem Otomasi Perpustakaan”. Dalam www.ilmukomputer.com tanggal 27 Februari 2007, Pukul 09.00.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: