Oleh: chobish | Februari 28, 2011

Apa Kabar Buku Sekolah Elektronik?


Apa Kabar Buku Sekolah Elektronik?

Heri Abi Burachman Hakim

Calon Pustakawan ISI Yogyakarta

Pemerintah telah membeli hak cipta dari banyak pengarang buku pelajaran untuk dapat mengalih mediakan buku karya mereka ke dalam format buku elektronik atau e-book. Selanjutnya buku elektronik ini disajikan dalam website milik Depatemen Pendidikan Nasional dan semua orang dapat dengan bebas mengunduh atau mendistribusikan ulang e-book yang disajikan tanpa dipungut biaya. Program mengalih mediakan buku pelajaran ke dalam format elektronik atau digital ini dikenal dengan program buku sekolah elektronik (BSE)

Langkah yang diambil pemerintah ini merupakan usaha untuk mengatasi problematika buku pelajaran yang selama ini membelit orang tua siswa. Bukan rahasia lagi bahwa buku pelajaran menjadi salah satu problematika yang dihadapi dunia pendidikan di Tanah Air kerena biaya pengadaan buku pelajaran sering memberatkan orang tua siswa. Padahal buku merupakan kebutuhan pokok dalam proses belajar mengajar sehingga walaupun harga buku pelajaran dirasa memberatkan orang tua, orang tua terpaksa memaksa membeli buku pelajaran.

Namun eksistensi program BSE menuai pro dan kontra dari masyarakat. Ada golongan yang mendukung adanya program BSE karena akan membantu orang tua dalam penyediaan buku pelajaran. Sedangkan golongan lain, seperti penerbit menolak keras program ini karena dirasakan akan merugikan penerbit dan dapat menyebabkan matinya industri penerbitan di Tanah Air.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas tentang pro dan kontra terkait dengan masalah BSE. Akan tetapi yang ingin penulis bahas disini adalah bagaimana mengoptimalkan keberadaan BSE. Jika melihat besarnya anggaran pemerintah yang telah dikeluarkan untuk menggulirkan program ini serta melihat kebutuhan siswa akan buku pelajaran sudah selayaknya jika keberadaan BSE dioptimalkan. Apakah optimalasi keberadaan BSE dilakukan dengan mengunduh buku-buku elektronik? Kemudian setelah diunduh bagaimana mana cara pemanfaatan buku-buku tersebut agar keberadaannya tidak percuma? Untuk itu melalui tulisan ini penulis ingin berbagi ide tentang pengelolaan BSE setelah diunduh dari website Departemen Pendidikan Nasional agar keberadaanya dapat lebih optimal.

Pengelolaan Berbasis Perpustakaan

Pemanfaatkan BSE sangat bergantung pada ketersediaan komputer. Hal ini disebabkan karena format BSE adalah file berektensi pdf yang untuk membacanya dibutuhkna komputer. Sayannya, tidak semua orang tua mampu menyediakan komputer bagi putra-putri mereka. Dengan katalain siswa akan kesulitan untuk mengakses materi pelajaran yang ditersedia di dalam BSE. Sebenarnya setelah diunduh selain dapat dibaca melalui komputer, BSE juga dapat dibaca dengan terlebih dahulu mencetaknya dalam lembaran-lembaran kertas. Akan tetapi karena jumlah halaman dari BSE ini cukup banyak maka untuk mencetaknya juga diperlukan dana yang mungkin besarnya sama dengan harga buku pelajaran yang dijual dipasarn.

Untuk mengatasi masalah ini penulis menawarkan pengelolaan BSE berbasis perpustakaan. Pada konsep pengelolaan ini, perpustakaan berperan sebagai lembaga yang menjembatani siswa memanfaatkan eksistensi buku sekolah elektronik. Dengan konsep pengelolaan ini orang tua tidak perlu khawatir bahwa anaknya tidak mampu mengakses buku sekolah karena orang tua tidak mampu menyediakan komputer.

Untuk merealisasikan konsep pengelolaan BSE berbasis perpustakaan langkah-langkah yang perlu diambil antara lain, pertama,  BSE yang telah diunduh dicetak oleh perpustakaan dan dijadikan sabagai bagian dari koleksi perpustakaan. Pengelola perpustakaan dapat mencetak BSE kemudian menjilidnya, mengolahnya sebagai koleksi perpustakaan dan melayankan BSE kepada siswa baik dengan cara dipinjam ataupun dengan cara dibaca ditempat. Dengan cara pertama ini, memungkinkan siswa meminjam atau membaca BSE melalui BSE yang dilayankan perpustakaan. Selain dapat membaca atau meminjam BSE, cara pertama ini memungkinkan siswa memfoto copy BSE sehingga dapat menekan biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan cara mencetak langsung BSE. Konsep ini sesuai jika digunakan oleh sekolah yang perpustakaan atau siswanya belum memiliki komputer.

Kedua, pengadaan seperangkat komputer yang dilengkapi CD drive writer. Seperangkat komputer yang dilengkapi dengan CD driver writer ini kemudian diletakkan di perpustakaan. Komputer difungsikan sebagai sarana untuk membaca file BSE yang telah diunduh. Sedangkan CD driver writer difungsikan sebagai alat yang digunakan untuk menyalin file BSE ke dalam CD-ROM jika siswa membutuhkan salinan file BSE. Konsep ini akan dimanfaatkan oleh siswa yang memiliki komputer untuk membaca BSE.

Ketiga, mengelola BSE dengan konsep perpustakaan digital. Pengelolaan BSE dengan konsep perpustakaan digital dilakukan dengan menggunakan aplikasi perpustakaan digital yang memungkinkan siswa atau guru menelusur BSE melalui katalog on-line, kemudian  setelah BSE yang ditelusur telah ditemukan siswa, guru atau pengguna perpustakaan lainnya dapat melihat BSE secara full text (lengkap). Pengelolaan dengan konsep perpustakaan digital ini diperlukan karena dari hari kehari jumlah BSE terus bertambah sehingga siswa atau pengguna perpustakaan lainnya akan kesulitan ketika mencari BSE secara manual. Dengan konsep perpustakaan digital memungkinkan perpustakaan ditemukan dan digunakan secara cepat dan massal. Konsep pengelolaan perpustakaan digital juga memungkinkan satu judul BSE diakses secara massal pada waktu yang bersamaan. Berbeda jika BSE disajikan dalam format tercetak maka satu eksemplar BSE yang dapat digunakan oleh satu orang.

Untuk merealisasikan pengelolaan BSE dengan konsep perpustakaan digital, selain seperangkat komputer perpustakaan  memerlukan aplikasi perpustakaan digital. Untuk memperoleh aplikasi perpustakaan digital, perpustakaan tidak perlu mengeluarkan uang karena saat ini banyak tersedia aplikasi perpustakaan digital yang dapat diperoleh dan digunakan secara gratis. Aplikasi yang dapat diperoleh dan digunakan secara gratis antara lain Ganesha Digital Libraray atau yang lebih dikenal dengan GDL, Greenstone Digital Library serta Senayan. Berbagai aplikasi ini telah digunakan oleh banyak perpustakaan di Tanah Air untuk melakukan pengelolaan serta pelayanan terhadap koleksi digital yang dimiliki. Contohnya adalah Perpustakaan ITB yang menggunakan GDL untuk membangun Perpustakaan digitalnya, Perpustakaan Universitas Negeri Semarang yang menggunakan Greenstone Digital Library untuk mengelola koleksi digitalnya.

Ketiga langkah diatas merupakan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengoptimalkan keberadaan BSE yang telah disediakan oleh pemerintah. Pihak sekolah dapat memilih langkah apa yang akan dilakukan guna mengoptimalkan keberadaan BSE sesuai dengan kemampuan sekolah. Namun apabila sekolah telah memiliki kemampuan maka akan lebih baik jika ketiga langkah diatas dilakukan sehingga keberadaan BSE benar-benar dapat dioptimalkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: