Oleh: chobish | Mei 14, 2011

Buku mu, Buku Ku dan Buku Kita : Catatan Hari Buku Nasional


Buku mu, Buku Ku dan Buku Kita : Catatan Hari Buku Nasional

Oleh

Heri Abi Burachman Hakim, SIP

Pustakawan ISI Yogyakarta

Buku menjadi salah satu sarana penting dalam proses belajar. Buku menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari proses belajar karena di dalam sebuah buku terdapat bahan baku untuk melakukan proses belajar. Bahan baku itu adalah informasi atau ilmu pengetahuan yang terekam dalam sebuah buku. Tentunya dapat dibayangkan jika hasil dari proses belajar jika tidak tesedia buku yang menyimpang bahan baku untuk proses belajar.

Buku merupakan sarana belajar sepanjang hayat dan tidak membedakan status sosial. Sarana belajar sepanjang hayat yang memungkinkan mereka yang berusia muda sampai orang tua dapat belajar. Mereka  yang masih berstatus pelajar atau yang sudah tidak lagi menyandang status tersebut dapat melakukan aktivitas belajar dengan membaca buku atah bahan bacaan lainnya. Tua atau muda, miskin atau kaya dan pelajar atau yang sudah tidak berstatus sebagai pelajar dapat melakukan aktivitas belajar tanpa dengan membaca buku.

Apabila semua penduduk Indonesia memiliki peluang yang sama untuk mengakses buku maka dapat mencerdaskan seluruh masyarakat Indonesia serta dapat meningkatkan kualitas atau kehidupan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tidak hanya mereka yang memiliki kemampuan dari segi ekonomi yang mampu cerdas dan sejahtera tapi seluruh rakyat Indonesia yang memiliki peluang yang sama. Usaha ini tentu dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia. Apalagi di era pasar bebas seperti ini kualitas SDM merupakan modal dasar untuk bersaing.

Sayangnya tidak semua warga negara yang ada di wilayah Republik Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mengakses buku atau bahan bacaan lainnya. Kondisi ini dapat disebabkan  karena keterbatasan ekonomi yang menyebabkan masyarakat tidak mampu membeli buku serta kesadaran masyarakat untuk membeli buku yang rendah. Terkadang masyarakat memiliki kemampuan untuk membeli buku, sayangnya mereka tidak sadar arti dari membaca buku sehingga memiliki motivasi yang rendah untuk membeli buku.

Kondisi ini semakin diperparah dengan jumlah perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah yang minim bagi masyarakat . Selain itu banyak kondisi perpustakaan yang memperihatinkan. Banyak perpustakaan yang jumlah koleksinya terbatas sehingga tidak mampu optimal dalam menyediakan buku bagi masyarakat. Padahal hakekat berdirinya perpustakaan adalah sebagai lembaga yang menyediakan bahan bacaan secara gratis bagi masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan ini dapat dilakukan dengan dengan mengoptimalkan keberadaan masyarakat sendiri. Memang sudah selayaknya jika penyediaan buku  melalui perpustakaan merupakan tanggung jawab pemerintah. Namun akan memperoleh hasil yang maksimal jika masalah ini diselesaikan dengan cara melibatkan seluruh komponen dan salah satunya adalah masyarakat.

Judul artikel ini “Buku mu, Buku Ku dan Buku Kita” adalah ide penulis agar eksistensi buku lebih optimal dan dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak orang. Melalui judul artikel ini penulis ingin mengungkapkan beberapa ide yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan buku sehigga akan lebih bermanfaat bagi sekitar. Semua ide yang dituangkan disini berbasis masyarakat dan pemerintahan sebagai fasilitator. Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai objek dalam program pembinaan minat baca masyarakat, tetapi mulai diposisikan sebagai subjek dalam pembinaan minat baca masyarakat.

Langkah-langkah yang dapat diambil agar buku dapat dioptimalkan bagi masyarakat antara lain, pertama¸ mengoptimalkan eksistensi buku yang ada di lingkungan. Di setiap lingkungan terdiri dari banyak keluarga. Setiap keluarga memiliki bahan bacaan untuk keluarganya, lalu idenya adalah bagaimana jika setiap keluarga di dalam lingkungan tersebut memberikan kesempatan kepada keluarga lain yang ada di dalam lingkungan untuk mengakses koleksi yang dimiliki keluarganya dan sebaliknya. Masalah mekanisme dan peraturan peminjaman merupakan konsensus antar kedua keluarga tersebut atau seluruh keluarga yang ada dilingkungan. Anggota keluarga sebuah keluarga dapat membaca koleksi bahan bacaan atau buku milik tetangganya.

Kedua, membangun taman baca di lingkungan sekitar. Apabila ide yang pertama tadi memberikan kesempatan antar keluarga di suatu lingkungan agar dapat saling meminjam koleksi yang dimiliki, ide yang kedua ini adalah menyatukan seluruh bahan bacaan yang dimiliki keluarga dalam suatu lingkungan ke dalam taman bacaan masyarakat. Namun, untuk melakukan ide ini diperlukan kerelaan dari setiap keluarga untuk menyumbangkan bukunya ke taman bacaan. Dengan pendirian taman bacaan ini maka seluruh bahan bacaan dilingkungan tersebut akan terkumpul di dalam taman bacaan sehingga buku mu, buku ku dan buku kita benar-benar terwujud. Untuk teknis pengelolaan taman bacaan tersebut masyarakat dapat meminta lembaga yang berkompeten untuk membimbing pengelolaan taman bacaan tersebut seperti Perpustakaan Daerah atau Program Studi Ilmu Perpustakaan yang ada dibeberapa perguruan tinggi di negeri ini.

Ketiga, perpustakaan kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta sebenarnya telah memberikan contoh bagaimana proses pemberdayaan masyarakat guna penyediaan bahan bacaan bagi masyarakat. Perpustakaan kota telah memprakarsai didirikannya bank buku yang memungkin masyarakat menyumbangkan buku, selanjutnya buku-buku yang telah disumbangkan tersebut akan di distribusikan untuk membantu pengadaan koleksi berbagai taman baca masyarakat.  Untuk itu sudah selayaknya jika masyarakat mendukung program bank buku ini agar buku dapat diakses oleh seluruh masyarakat Yogyakarta.

Masyarakat sebenarnya merupakan aset sekaligus modal dasar dalam usaha penyediaan bahan bacaan masyarakat. Selanjutnya pemerintah melalui instansi terkait perlu melakukan stimulan agar aset tersebut dapat benar-benar pemanfaat dala menyediaan bahan bacaan masyarakat. Stimulan tersebut dapat berupa pembiraan bantuan bahan bacaaan bagi taman bacaan, pendirian taman bacaan masyarakat serta mengadakan lomba taman bacaan secara teratur sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk serius dalam mengelola perpustakaan.

Semoga berbagai ide yang penulis sampaikan melalui tulisan ini dapat menjadi catatan kecil peringantan hari buku nasional yang akan jatuh pada tanggal 17 bulan ini. Semoga ide dari buku pribadi kemudian dihimpun menjadi buku miliki bersama dapat terwujud sehingga peluang masyarakat untuk mengakses bahan bacaan semakin terbuka lebar.


Responses

  1. hmm… ^_^

  2. wah…artikel yg bagus pak, memang buku merupakan media pembelajaran yg efektif buat semua orang yang akan belajar maupun membaca.
    Sukses selalu buat P. Heri dan salam kenal…^^

    • terimas kasih sudah berkenan mengunjungi web saya dan salam kenal kembali

    • terima kasih mas sudah mau mampir dadn salam kenal kembali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: