Oleh: chobish | November 29, 2013

Optimalisasi Media On-line oleh Pustakawan Perguruan Tinggi


Optimalisasi Media On-line oleh Pustakawan Perguruan Tinggi

Oleh

Heri Abi Burachman Hakim

 

Pendahuluan

Kehadiran produk-produk teknologi informasi dan internet melahirkan media baru yang dikenal dengan media on-line. Blog, website, media sosial merupakan contoh kongkret dari media online. Media on-line saat ini begitu populer di kalangan masyarakat kita dan keberadaannya melengkapi keberadaan media cetak ataupun media elektronik yang telah ada sebelumnya.

Media on-line tersebut merupakan media yang merekam  berbagai informasi dalam format digital. Saat ini informasi mulai diciptakan sebagai born digital. Born digital merupakan semua materi yang pada dasarnya dibuat sebagai materi digital dan akan digunakan dan dipertahankan sebagai materi digital. Seorang peneliti yang menulis hasil risetnya dengan menggukan aplikasi Ms Word dan mempublikasikan karya tersebut dalam blog yang dimiliki peneliti maka laporan tersebut merupakan born digital (Putu Laxman Pendit, 2008; 34).  Sebagai lembaga yang bergerak di bidang jasa layanan informasi maka perpustakaan perlu mengambil sikap terhadap keberadaan berbagai media online tersebut. Upaya ini dilakukan agar perpustakaan mampu mengambil manfaat dari pertumbuhan media ini.

Berdasarkan sejarah, perpustakaan terus berubah dari masa ke masa. Perubahan ini dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensi perpustakaan di tengah-tengah masyarakat. Sebagai ilustrasi ketika masyarakat hanya mengenal tanah liat atau kulit hewan sebagai media penyimpan informasi maka perpustakaan menyimpan dua jenis media tersebut sebagai koleksi. Ketika kertas menjadi media penyimpan informasi maka perpustakaan mulai menghimpun koleksi tercetak.

Lalu sikap apa yang diambil pustakawan sebagai aktor pengelola perpustakaan ketika informasi dapat dipublikasikan melalui media on-line serta bagaimana usaha yang dilakukan oleh untuk mengoptimalkan eksistensi media on-line ini ? berbagai jawaban atas pertanyaan tersebut akan digambarkan dalam tulisan ini. tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan empat orang pustakawan dan observasi penulis terhadap aktivitas pustakawan di dunia maya. Melalui tulisan ini akan dideskripsikan bagaimana sikap pustakawan terhadap eksistensi media on-line dan bagaimana sikap pustakawan dalam mengoptimalkan eksistensi media on-line.

 

Pembahasan

Pustakawan dan media on-line

Saat ini informasi marak dipublikasikan melalui media on-line, baik itu melalui website atau blog. Khusus untuk perguruan tinggi di Indonesia, Surat Edaran Direktur Jendral Pendidikan Tinggi yang menghimbau agar karya ilmiah mahasiswa dapat ditelusuran melalui portal garuda, portal perguruan tinggi atau portal jurnal ilmiah, menyebabkan publikasi informasi ilmiah juga meningkat. Belum lagi keberadaan database on-line yang tidak bisa dihindari oleh pustakawan.

Fenomena ini memberikan konsekwensi tersendiri bagi pustakawan. Pustakawan tidak memiliki pilihan untuk tidak memanfaatkan media on-line sebagai salah satu sarana untuk memperoleh informasi. Kondisi ini secara tidak langsung memaksa  pustakawan untuk memanfaatkan internet dan media online. Pernyataan ini juga disepakati oleh beberapa pustakawan yang telah penulis wawancarai. Berikut ini hasil wawancara penulis dengan keempat orang pustakawan tersebut.

“Saya memanfaatkan internet dan media online untuk menelusur informasi yang diperlukan pemustaka dan berkomunikasi dengan pemustaka” (YD)

Tidak berbeda jauh dengan jawaban dari pustakawan pertama, jawaban ketiga pustakawan lainnya juga senada dengan apa yang dikemukan oleh pustakawan pertama. Berikut ini tiga hasil wawancara penulis dengan ketiga pustakawan lainnnya secara terturut-turut.

“Iya saya memanfaatkan media online terutama untuk menelusur informasi mas, selain itu juga untuk berkomunikasi  dan promosi”(SY)

“Iya saya memanfaatkan internet dan media online untuk beberapa keperluan, seperti menelusur informasi, cari jurnal ilmiah, mengelola web, mengelola jurnal online, ngeblog dan membangun jaringan mas”(BS)

“Jelas mas, di era seperti ini kita mana mungkin kita bisa lepas dari internet, apalagi kita sebagai pustakawan dimana publikasi ilmiah sekarang marak melalui media on-line, ya mau tidak mau kita harus memanfaatkan media ini”. (AM)

Dari hasil wawancara tersebut, saat ini hampir semua pustakawan perguruan tinggi tidak bisa dipisahkan dari eksistensi media online.  Pustakawan memanfaatkan media on-line untuk menelusur informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Selain itu pustakawan juga memanfaatkan media ini untuk berkomunikasi dengan pemustaka dan promosi perpustakaan.

Kemampuan pustakawan dalam memanfaatkan media online untuk menelusur informasi, berkomunikasi dan promosi secara tidak langsung merubah citra pustakawan di lingkungan kerja dan di mata pemustaka. Beberapa pustakawan diberikan tanggung jawab lebih untuk mengelola web perpustakaan atau portal jurnal yang dimiliki oleh lembaga. Kondisi seperti ini justru merubah persepsi tentang pustakawan, bahwa pustakawan buka hanya penjaga buku tetapi merupakan pribadi yang berkualitas dan dapat diberikan tanggung jawab selain mengelola perpustakaan.

Media Sosial di Mata Pustakawan

Dalam beberapa petikan wawancara di atas dapat diketahui selain untuk kepentingan menelusur informasi, pustakawan juga memanfaatkan media on-line untuk promosi dan berkomunikasi dengan pemustakan. media sosial yang ada di internet merupakan salah satu sarana untuk melakukan promosi dan berkomunikasi oleh pustakawan.

Semua pustakawan memiliki account di situs media sosial. Facebook dan twitter merupakan media sosial yang dimiliki oleh pustakawan secara umum. Selain itu pustakaan juga memiliki account di Whatsup dan salah satu pustakawan memiliki account di edmono sebagai sosial media untuk pembelajar online.

Masyarakat dan pustakawan sebagai bagian dari masyarakat tersebut saling menyapa dan berinteraksi dengan memanfaat situs media sosial. Kondisi ini meminimalkan interaksi secara secara langsung dan mengantar situs media sosial untuk berkomunikasi.

Berikut ini hasil wawancara penulis dengan empat orang pustakawan secara berturut-turut :

“Iya saya memiliki account di social media seperti facebook, twitter dan flicker dan saya memanfaatkan media ini untuk berkomunikasi juga untuk promosi mas”(SY)

“Saya memiliki account di facebook, whatsup dan twitter. Saya juga memanfaatkan media ini untuk menunjukkan eksistensi, berkomunikasi dengan semama pustakawan atau pemustaka serta promosi perpustakaan”(BS)

“saya punya account di facebook, twitter dan edmundo (jejaring sosial  untuk pembelajar online). Berbagai account tersebut saya gunakan untuk komunikasi, promosi dan membantu aktivitas mengajar  ”. (AM)

“Saya memiliki account di facebook, twitter dan whatsup mas. Berbagai sosial media saya gunakan untuk promosi kegiatan perpustakaan dan membangun jaringan atau berkomunikasi” (YD).

Pustakawan bahkan mulai mengoptimalkan media sosial seperti facebook untuk melakukan promosi perpustakaan. Berbagai kegiatan dan informasi koleksi terbaru yang dimiliki perpustakaan dapat dipromosikan melalui account media sosial yang dimiliki perpustakaan atau pustakawan. Semua pustakawan yang penulis wawancara sepakat bahwa media sosial saat ini merupakan media yang efektif untuk melakukan kegiatan promosi. Kesimpulan ini di dasarkan alasan karena pemustaka yang terlahir di era digital native memiliki account di berbagai media sosial sehingga media sosial menjadi media promosi yang efektif.

“Promosi di facebook saya pikir cukup efektif mas karena hampir semua pemustaka memiliki account di situs ini” (YD)

“saya sering melakukan promosi di facebook mas, dan jika melihat efektivitas nya media ini cukup efektif karena hampir semua orang saat ini terhubung di facebook mas. Promosi melalui media iya juga gratis mas”(SY)

“Saya sering melakukan promosi kegiatan yang berkaitan dengan komunitas yang saya geluti di facebook mas dan saya pikir ini cukup efektif mas. ”(BS)

Publikasi on-line Pustakawan

Perkembangan teknologi website dan blog memudahkan pustakawan untuk membangun website atau blog. Untuk membangun sebuah website atau blog tidak mengharuskan seseorang memiliki harus menguasai bahasa pemrograman web. Dengan modal terbiasa mengoperasikan komputer seseorang dapat membangun website atau blog. Kemudahan inilah yang mendorong pustakawan membangun website atau blog.

Kemudahan membangun website atau blog ini memotivasi pustakawan untuk membangun website atau blog. Melalui website atau blog tersebut perpustakaan melakukan publikasi tulisan yang dimiliki. Tidak hanya ini melalui website atau blog tersebut pustakawan juga dapat melakukan promosi kegiatan pribadi atau perpustakaan. Publikasi tulisan yang dilakukan oleh pustakawan ini menyebabkan pustakawan semakin dikenal oleh pemustaka.

Kemampuan pustakawan membangun website atau blog ini, secara tidak langsung meningkatkan posisi tawar pustakawan di instutsi masing-masing. Pustakawan diberikan tanggung jawab untuk membangun website perpustakaan yang memungkinkan perpustakaan mendekatkan berbagai layanan kepada pemustaka. Selain itu Pustakawan semakin dihargai dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan penting yang diselenggarakan oleh lembaga induk perpustakaan.

“Saya memiliki blog yang berisi tulisan yang saya hasilkan. Selain itu saya mengelola website perpustakaan dan portal jurnal lembaga yang dibangun dengan menggunakan Open Journal Systems”(BS)

“Saya membangun website dengan CMS mas, website tersebut berisi tulisan-tulisan saya.  ”. (AM)

Penutup

Perpustakaan, pustakawan dan media on-line saat ini merupakan ketiga unsur yang tidak dapat dipisahkan. Kolaborasi dari ketiga unsur ini justru semakin memanjakan pemustaka dalam mengakses layanan perpustakaan.

Pustakawan memanfaatkan media on-line untuk melakukan penelusuran informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. selain itu media on-line juga dimanfaatkan untuk membangun jaringan komunikasi dengan pemustaka dan promosi berbagai program dan kegiatan perpustakaan.

Pustakawan tidak dapat menghindar dari eksistensi media on-line. Pustakawan perlu senantiasa meningkatkan kompetensi operasional media on-line sehingga mampu memanfaatkannya untuk peningkatan kualitas layanan perpustakaan. selain itu pustakawan perlu menguasa literasi informasi karena di era seperti ini terjadi ledakan informasi. literasi informasi memungkinkan pustakawan memiliki kompetensi identifikasi informasi, strategi penelusuran informasi dan evaluasi informasi yang layak digunakan oleh pemustaka.

 

Daftar Pustaka

Bungin, Burnah. 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta; Kencana

Pendit, Putu Laxman, 2008. Perpustakaan Digital: dari A sampai Z. Jakarta:  Cita Karyakarsa Mandiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: