Oleh: chobish | Desember 4, 2013

Pustakawan Demo, Emang Masalah Buat Gue?


Pustakawan Demo, Emang Masalah Buat Gue?

Oleh

Heri Abi Burachman Hakim

Masih segar di ingatan kita ketika beberapa hari lalu ribuan dokter dari berbagai daerah di Indonesia melakukan aksi demo. Aksi ini dilatarbelakangi oleh keputusan Mahkamah Agung yang memovis dr. Dewa Ayu Sasiary, dr Hendry Simanjuntak, dan dr Hendy Siagian dengan 10 bulan penjara. Ketiga dokter tersebut dianggap  melakukan malpraktik dalam membantu proses persalinan pasien Julia Maketey hingga meninggkal dunia pada tanggal 10 April 2010 silam.

Dampak dari aksi yang dilakukan oleh para dokter ini adalah terganggunya berbagai layanan kesehatan di banyak rumah sakit di Tanah Air. Banyak pasien yang tertunda memperoleh layanan karena dokter yang akan memeriksanya terlibat dalam aksi demo. Jika semua aksi demo ini dilakukan oleh dokter maka dapat dipastikan akan terjadi gangguan stabilitas nasional karena tidak ada dokter yang memberikan layanan kesehatan. Kekacauan mungkin akan terjadi dimana-mana.

Lalu bagimana jika yang melakukan demo adalah pustakawan? Apakah aksi demo ini mampu menggangu stabilitas nasional, atau pada skala kecil mampu mengganggu proses pendidikan di Institusi masing-masing sehingga pimpinan di lembaga masing-masing tergugah hatinya untuk memperhatikan perpustakaan.

Perpustakaan sering dianologikakan sebagai jatung institusi pendidikan. Sebagai jantung yang merupakan organ vital, tentu perpustakaan memiliki posisi strategis dalam sebuah insitutsi pendidikan. Perpustakaan harus mampu mendukung proses belajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sayangnya, perpustakaan sebagai jantung dari institusi hanyalah sebuah jargon.Realitas yang ada di lapangan menunjukkan banyak dari lembaga pendidikan yang tidak memiliki perpustakaan ataupun kalau lembaga tersebut memiliki perpustakaan konsdisinya masih memprinatinkan.

Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 atau berbagai standar nasional perpustakaan untuk memperbaiki kondisi perpustakaan di Tanah Air.  Sayangnya Undang-undang atau standar tersebut hanyalah sebagai aturan tertulis yang banyak tidak dipatuhi oleh lembaga pendidikan. Masih banyak perpustakaan yang  dikelola oleh tenaga yang tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaaan, atau anggaran yang tidak mencapai 5% dari anggaran institusi yang menyebabkan perpustakaan tidak mampu meremajakan koleksi atau membeli perabot perpustakaan lainnya,

Demo atau demonstasi saat ini menjadi salah satu cara yang digunakan untuk, menyampaikan aspirasi. Lihat buruh dengan jumlah massa yang besar, mereka hampir setiap tahun melakukan demo untuk menuntut kenaikkan gaji dan berhasil.  Lalu apakah cari ini efektif bagi pustakawan?  Menurut penulis bukan. Demo bukanlah cara yang efektif bagi pustakawan untuk aspirasinya. Berbeda dengan dokter yang begitu dibutuhkan oleh masyarakat atau buruh yang memiliki massa dengan jumlah besar  sehingga aspirasinya akan lebih didengarkan oleh masyarakat atau pimpinan institusi. Jumlah pustakawan tidaklah besar buruh dan peran pentingya tidak begitu dirasakan oleh pimpinan lembaga sehingga tugas pustakawan dapat digantikan oleh guru atau tenaga administrasi lainnya.

Cara yang paling efektif untuk menyampaikan arpirasi bagi pustakawan adalah dengan senantiasa menjaga kualitas layanan, mengadakan berbagai kegiatan di perpustakaan (seperti lomba baca, lomba resensi buku dan lomba menulis) serta senantiasa meningkatkan kompetensi diri. Dengan melakukan tiga upaya ini maka kualitas layanan perpustakaan akan meningkat dan menunjukkan bahwa aktivitas pustakawan di perpustakaan tidak hanya menjaga buku. Banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan oleh pustakawan dan hanya dapat dilakukan oleh pustakawan yang memiliki latar belakang ilmu informasi. Ketika pustakawan telah mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan, mungkin pimpinan akan semakin memperhatikan perpustakaan dan aspirasi pustakawan. Apabila kondisi ini terjadi maka berdasarkan kompetensi yang senantiasi dipupuk, pustakawan dapat menyampaikan berbagai ide tentang pengembangan perpustakaan.

Untuk merubah kondisi perpustakaan saat ini tidak hanya dibutuhkan kata-kata atau demontrasi. Lebih dari itu pustakawan harus mampu menunjukkan kompetensi yang dimiliki dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan atau produk-produk layanan baru. Semoga upaya ini akan membuka pikirin pimpinan untuk lebih pemberikan perhatian kepada perpustakaan, semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: