Oleh: chobish | Desember 11, 2013

Menjual Profesi Pustakawan


Menjual Profesi Pustakawan

Oleh

Heri Abi Burachman Hakim

Staf Perpustakaan ISI Yogyakarta

Dua bulan yang lalu saya mendampingi sebuah sekolah yang akan maju dalam lomba perpustakaan sekolah. Seperti biasanya bagi sekolah kurang focus dalam pengelolaan perpustakaan, sekolah tersebut akan mengundang pihak lain yang dianggap kompeten untuk membantu persiapan menghadapi lomba. Tidak hanya mengundang pihak di luar sekolah, semua elemen sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, staf tata usaha dan siswa dilibatkan dalam persiapan ini. Semuanya membantu persiapan administrasi lomba sampai dengan merapikan buku-buku di rak.

Sore itu, saya datang ke sekolah dan melakukan perbaikan jaringan komputer serta setting komputer yang dipersiapkan untuk absen siswa. Setelah semuanya siap, kemudian saya meminta beberapa siswa untuk melakukan simulasi absen dengan menggunakan computer yang telah disediakan. Ketika siswa tersebut melakukan simulasi, beberapa orang siswa terkejut dengan fasilitas absen yang baru saja mereka gunakan, mereka begitu nyaman dengan absen ini “wah enaknya absennya canggih, gak perlu nulis lagi dibuku, ini baru keren bu” tutur seorang siswa kepada guru pustakawan yang kebetulan berada di dekat saya. “Iya asik bu absennya lebih cepat” ucap siswa lainnya. Pernyataan seperti ini biasa saya dengar ketika bertemu dengan orang yang baru menggunakan fasilitas visitor counter (absen) yang disediakan oleh perangkat lunak SLiMS (perangkat lunak otomasi perpustakaan berbasis open source). Pernyataan yang sedikit berbeda dan membuat saya terkejut adalah “Pak kalau mau bisa, membangun perpustakaan dan system seperti ini kuliah di mana pak?” , “Iya pak kuliah di mana pak?” dua orang siswa bertanya secara berurutan kepada saya. Mendengar pertanyaan ini membuat saya bangga sebagai seorang pustakawan karena ternyata dua orang siswa tersebut tertarik dengan profesi yang saya geluti. Sembari berbalut dengan rasa bangga saya jawab “jurusan ilmu perpustakaan”. “Oh ada jurusan kayak gitu pak” respon seorang anak ketika mendengar jawaban saya. “Iya ada, mulai dari level diploma dua bahkan sampai program doctoral” jawab sama.” Wah asik juga tuh, kelihatannya, kalau peluang kerjanya gimana pak? Tanya seorang siswa. “Peluang kerjanya terbuka lebar karena jurusan ini tidak berdiri di semua perguruan tinggi di Indonesia, jadi langka, saya hanya mengangung satu bulan setelah lulus kuliah dan bekerja sebagai seorang pustakawan sampai sekarang” jawab saya lebih lanjut. “wah kalau begitu setelah lulus kuliah ini bisa jadi pertimbangan kami pilih jurusan apa pak” kata seorang siswa sembari mereka meninggalkan meja computer absen dan kembali melakukan shelving (mengembalikan buku di rak).

Dari pengalaman saya ini, terbersit pikiran ternyata pustakawan merupakan profesi yang menarik, lalu muncul lagi pertanyaan kenapa profesi tidak begitu diminati seperti guru, dokter atau arsitek? Sebagai ilustrasi saat ini hanya 3121 pustakawan (http://npp.pnri.go.id/npp/main/index.php?module=profil_perpus). Padahal jumlah perpustakaan dan jumlah pendidikan yang seharusnya memiliki perpustakaan berlipat-lipat dari jumlahnya dari jumlah pustakawan.

Kondisi ini menyebabkan banyak perpustakaan yang tidak dikelola oleh sumber daya manusia yang tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan. Minimnya jumlah pustakawan yang mengelola perpustakaan menyebabkan lembaga ini tidak mampu memerankan perannya sebagaimana mestinya. Padahal pustakawan memiliki peran strategis dalam dunia pendidikan sebagai aktor yang menyediakan bahan sumber belajar bagi seluruh lapisan masyarakat.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa profesi ini tidak menarik minat masyarakat untuk dijadikan sebagai sebuah profesi, penulis mencoba menengok kebelakang, mencari profil pustakawan dahulu dan kondisi perpustakaan dahulu. sosok pustakawan yang penulis kenal dulu penulis kenal adalah pribadi yang tua, kurang ramah serta mengelola perpustakaan yang tidak nyaman diakses oleh masyarakat atau siswa. Profil pustakawan serta  kondisi perpustakaan seperti inilah yang membangun citra negatif tentang perpustakan dan pustakawan sehingga profesi ini tidak menarik untuk dijadikan sebagai profesi. Padahal kondisi perpustakaan dan profil pustakawan saat ini sudah mulai berubah. Saat ini pustakawan adalah pribadi yang ramah serta banyak perpustakaan yang dikelola dengan memanfaatkan produk-produk teknologi informasi sehingga lebih menarik dan nyaman sebagai tempat belajar.

Selain itu, menurut penulis minimnya promosi yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi ilmu perpustakaan menyebabkan profesi ini kurang dikenal. Promosi yang dilakukan juga tidak hanya membagikan brosur yang berisi profil jurusan ilmu perpustakaan, namun perlu menampilkan profil pustakawan saat ini lengkap dengan prestasinya. Bahkan akan lebih efektif jika kegiatan promosi tersebut menghadirkan pustakawan berprestasi secara langsung.

Pengalaman penulis berinteraksi dengan siswa di sekolah, sebenarnya menunjukkan bahwa persepsi yang terbentuk tentang profesi dapat mempengaruhi minat masyarakat terhadap profesi tersebut. Dari aktivitas yang penulis lakukan di sekolah, secara tidak langsung membentuk persepsi siswa tentang profesi pustakawan. Selama ini profil pustakawan yang ada dalam benak siswa adalah pribadi yang melakukan kegiatan pengelolah koleksi, melakukan pelayanan peminjaman dan pengembalian, menyusun buku di rak dan menjadi buku. Aktivitas yang selama ini dilakukan oleh guru pustakawan di sekolah tersebut, berbeda dengan aktivitas yang penulis lakukan.  Aktivitas yang penulis lakukan ternyata menarik bagi siswa sehingga mereka bercita-cita untuk masuk jurusan ilmu perpustakaan pasca lulus dari Sekolah Menengah Atas.

Apabila banyak masyarakat yang semakin termotivasi untuk masuk jurusan ilmu perpustakaan maka jumlah pustakawan akan semakin meningkat.  Semakin banyak pustakawan maka akan  berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di Indonesia secara nasional sehingga dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia  Indonesia. Untuk itu sudah saat jurusan ilmu perpustakaan di Indonesia melakukan promosi seperti ide yang penulis lontarkan sehingga dapat menjual jurusan ini dan memotivasi masyarakat untuk menjadi pustakawan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: